Fenomena Beragama Masyarakat Perkotaan di Indonesia

Agama merupakan salah satu indikator terpenting dalam kehidupan manusia.  Pada kenyataanya agama mampu mengontrol manusia menjalani kehidupan dengan baik  menurut ajaran agama. Sebagai pedoman hidup agama mampu menjadi landasan manusia dalam berfikir dan bertindak. Mungkin bila tanpa agama, manusia dengan rakusnya berbuat sewenang-wenang tanpa memikirkan orang lain. Sehingga kehidupan masyarakat akan rusak bila tanpa agama sebagai suatu pedoman hidup.  

Agama adalah sesuatu penghayatan yang bersifat pribadi, sehingga agama kadang-kadang sulit untuk dianalisa menurut perspektif sosiologi karena bersifat sosial (Bernard, 2003: 2). Agama menurut persepektif sosiologi yaitu suatu pandangan hidup yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat (Hamali, 2017: 88). Sedangkan agama menurut perspektif sosiologi agama yaitu sebuah sistem kepercayaan yang bisa diwujudkan melalui perilaku sosial masyarakat.


Berbagai agama di Indonesia

Fenomena agama sudah menjadi fenomena yang bersifat universal dalam umat manusia. Perilaku beragama merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri manusia dan dorongan dari orang lain untuk bertingkah laku yang sesuai dengan agama sebagai wujud dan ekspresi jiwa dalam berbicara dan berbuat sesuai dengan syariat agama. Kendati demikian manusia dibekali dengan sejumlah potensi untuk memberikan arah kehidupan yaitu inderawi, naluriyah, nalar dan agama.

Pada dasarnya suatu agama mempunyai harapan kebahagiaan kehidupan sesudah mati bagi penganutnya. agama mampu membuat penganutnya meninggalkan kehidupan dunia yang fana untuk naik ketingkat spiritual lebih tinggi yaitu mencapai tingkat kedekatan kepada Tuhan. Agama sebagai pedoman keseimbangan nilai-nilai dan memperkuat norma yang sama antar individu maupun kelompok.

Agama merupakan suatu gejala umum yang dimiliki oleh seluruh manusia di dunia dan bagian dari suatu sistem sosial masyarakat. Pada era globalisai ini, agama telah menjangkau ruang yang luas dengan masuk ruang publik dan arena kontestasi politik yang mana ikut serta berpartisipasi dalam memperjuangkan, menentukan dan mengatur batas-batas modern antara publik (casavona) dengan ranah privat.


Potret keadaan kota dan aktivitas masyarakat di dalamnya yang padat sehingga agama bukan lagi menjadi hal utama.

Secara umum karakteristik keagamaan di masyarakat
  perkotaan diantaranya  masyarakat cenderung individual dan heterogenitas , rasionalitas yang tinggi tentang kehidupan yang luas,  ilmu keagamaan masih kurang sehingga tingkat spiritual masih rendah bahkan bukan sebagai suatu hal yang diutamakan, karena masyarakat kota dituntut untuk bisa meningkatkan spesifikasi kerja guna memenuhi kebutuhan ekonomi yang tinggi dan menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi. Keagamaan perkotaan mulai tergeser oleh sektor-sektor yang dominan seperti politik, industri, hukum yang telah dilepaskan dari tujuan agama ( Anas, 2006: 219-220).

Perkembangan Islam diperkotaan pada saat ini, tentang hal-hal yang berkaitan kehidupan namun tidak didasarkan pada agama (sekularisasi) karena tingkat rasional yang tinggi, pemahaman atau persepsi keagamaan masyarakat perkotaan telah mengalami pergeseran bahkan perubahan, agama hanya sebagai alat instrumen kehidupan serta sebagai alat legitimasi dari apa yang diperbuat, pada saat ini agama bukan sebagai alat pemecah masalah secara lansgung, serta lembaga-lembaga keagamaan mulai kehilangan peminat.


Ibu-ibu perkotaan sedang melaksanakan pengajian

Potret muda-mudi yang mempunyai semangat beragama yang kuat dengan mengadakan diskusi keagamaan

Namun sejalan dengan perkembangan Islam di perkotaan
, liberalisasi dan demokratisasi mampu memicu dan memacu semangat perkembangan aktivitas keagamaan. Mengambil contoh keberagaman aktivitas umat Islam. Keberagaman tersebut diantaranya semangat kaum muda dalam beragama yang kuat, dapat dilihat seperti kalangan pelajar dan mahasiswa yang aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan seperti komunitas diskusi dan masjid-masjid. Sedangkan untuk kaum ibu-ibu pengajian yang ditempatkan dirumah-rumah atau hotel untuk kaum menengah keatas. Semarak kegiatan keagamaan dari masyarakat tertentu di perkotaan sebagai respon terhadap modernisasi pembanguan serta mempertahankan eksistensinya sebagai orang Indonesia secara umum dan masyarakat Islam secara khusus (Aripudin, 2012: 131).

Beragama menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan, karena dengan agama kita mampu menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat dengan Sang Pencipta. Karena kemajuan zaman, membawa pengaruh terhadap nilai-nilai dan pergeseran presepsi tentang agama. Sudah selayaknya kita menjadi insan yang bijak, untuk menjadikan agama sebagai suatu kebutuhan ditengah derasnya arus globalisasi dan agar apapun yang kita lakukan sebagai ladang pahala untuk kehidupan selanjutnya.
               

DAFTAR PUSTAKA

Bernard Raho SVD, Agama Dalam Perspektif Sosiologis, Jakarta: Penerbit Obor, Cet. 1, 2003.
Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, Cet.V, 2009.
M.Dawam Raharjo, Mayarakat Madani: Agama Kelas Menengah dan Perubahan Sosial, Jakarta: LP3ES.
Nurhayati, N., Erni, S. And Suriani, S., 2006. Sustainable Life Style Masyarakat Perkotaan (Studi Tentang Gaya Hidup Berkelanjutan Masyarakat Perkotaan di Riau). Sorot, 11(2).
Thomas F’dea, The Sociologi Of Religion, Ter.Tim YASOGAMA, Yogyakarta: CV. Rajawali Yayasan Solidaritas Gajah Mada, Cet. 1, 1985.


IDENTITAS
Nama : Roudhotul Mahfudhoh
NIM : 18105040051
Kelas : Sosiologi Agama (A)
Angkatan : 2018-2019

Post a Comment

0 Comments